Pesan Kecil dari Seorang Murid untuk Gurunya

Assalamualaikum, Pak Yanto. Pripun kabar njenengan? Menawi sae, Alhamdulillah. Masih ingat saya nggak pak? Iya, saya Bintang Ilham Avicena. Itu lho pak, yang sukanya duduk di pojokan. Yang sering mbolos juga. Yang sukanya rame sendiri. Yang sukanya nek njawab pertanyaan asal njeplak. Yang seringkali ga sopan sama Bapak.

Pak, walaupun njenengan tidak pernah jadi wali kelas saya, tapi entah kenapa justru njenenganlah yang saya anggap sebagai “wali” di sekolah. Walaupun kadang kita ece-ecenan di dalam kelas -terutama saat Pak Yanto salah menulis soal di papan tulis- tapi kadang Pak Yanto datang di dekat saya walau hanya sekedar bertanya kabar rumah saya yang di Cangkringan sana. Mungkin bagi Bapak, itu suatu hal yang biasa. Tapi saya sebagai murid merasa senang, ada guru yang mau mengajak bicara murid tentang hal di luar akademik atau sekolah, terlebih saya bukan murid yang menonjol kecuali jika dinilai dari kebengalannya.

Pak, mungkin kalau tidak ada njenengan, saya nggak akan bisa mentitrasi, mencari Ph dengan cara yang benar. Mungkin saya nggak akan tau bedanya alkohol dengan segala senyawa turunannya. Mungkin bahkan saya akan sama sekali buta akan kimia, karena dari guru lain saya nyaris tak memperhatikan. Tapi Bapak “memaksa” saya, dengan selalu memberi pertanyaan, dengan selalu memberi berbagai soal. Mau tak mau, dengan berbagai motivasi yang secara tidak langsung diberikan oleh Bapak pada saya, saya harus bisa mengerjakan soal dari Bapak. Hingga nanti Bapak berkata, “hagene cah rusak yo iso pinter” dengan senyuman khas Bapak yang bikin ngakak.

Pak, alhamdulillah berkat bimbingan Bapak beserta guru-guru yang lain, sekarang saya sudah dapat kuliah di satu universitas negeri di Jogjakarta. Alhamdulillah, saya bisa diterima di Fakultas Kedokteran, di Pendidikan Dokter tepatnya. Iya Pak, Alhamdulillah si “cah rusak” ini bisa kuliah yang untuk masuk saja persaingannya begitu ketat. Kemarin, saat SNMPTN, saya merasakan sekali ada yang membantu saya mengerjakan Kimia. Mendadak saya seperti merasa Bapak membantu saya mengerjakan soal-soal SNMPTN. Padahal kalau benar iya, mestinya saya sudah dikeluarkan dari ruangan. Aneh, tapi begitulah Pak. Mungkin benar kata Bapak bahwa Bapak adalah “wong apik” jadi bisa membantu saya waktu utul SNMPTN kemarin 😀

Maka dari itu, Pak. Saya selaku diri saya pribadi, ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat Bapak. Saya, bocah yang dianggap rusak bahkan sering diacuhkan guru-guru, kini sedang menempuh langkah baru. Berkat doa dan bimbingan Bapak, saya bisa berada di sini. Semoga Bapak selalu sehat, hingga bisa menciptakan generasi-generasi yang hebat. Yang tadinya dipandang sebelah mata, tapi nantinya mampu membuka mata orang lain. Generasi yang diciptakan dari tangan dingin Bapak yang selalu dengan hangat “menggoda” dan melecut semangat murid-murid dengan cara Bapak sendiri. Matur nuwun, Pak :”) matur nuwun sanget.

#NB: o nggih Pak, santai mawon. Saya nggak bakalan nyuntik mati njenengan kok, hehe 🙂

Advertisements

About hamcena

I'm a melancholic-romantic rocker.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pesan Kecil dari Seorang Murid untuk Gurunya

  1. kakaknya sandy says:

    Hahahaha ngakak bacanya… Smg Allah selalu memberkahi pak yanto dan keluarga. Good luck ilham, jd dokter yg baik y 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s