A Fairy Tale

Fellas, pernah jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku barusan ngalamin loh.

Kisah bermula dari pertama ikut bimbingan intensif SNMPTN di G*nesh* Oper*tion. Waktu itu ngliat-liat doang di sekeliling. Dan hasilnya, nol. Gak ada yang kemencling, kinclong, atau istilahnya menarik hati. Bukannya ga ada yang cantik sih, banyak sebenernya. Tapi ya mungkin emang aku gak level sama yang cantik-cantik (rupaku ra karuan soale)

Akhirnya setelah was wes wos gak jelas, berhubung perut laper jadi aku dan dua sohib kenthel -sebut saja yasor dan ajib- cari makan di belakang SMP 5 Yogyakarta (SMP penuh kenangan). Akhirnya makannya di siomay t*lk*m yang notabene letaknya udah gak di belakang SMP 5 -_- penting? Ga juga sih sebenernya.

Yah dan begitulah, biasalah cowok kalo makan kan gak cerewet, gak nggosip, pol mentok cuma ece2nan. Saat itu kami udah mulai kepikiran untuk pulang dan tiba-tiba…..

CLING!!! That awkward moment when you saw something that caught up your vision. Kita bener-bener cep klakep, speechless, diam tanpa kata ngeliat seorang cewek lewat. Masih mengenakan seragam SMA, rambutnya hitam sepunggung, mukanya bener-bener manis dan gabisa digambarkan dengan kata-kata (sori, ga gitu pengalaman nggambarin cewek, yang pasti dia awesome), dia membuat kami mengikuti setiap langkah kakinya, setiap hembusan nafasnya (duh lebay) dan yaah dia cuma lewat gitu aja. Gak mampir makan.

“Lumayan kae mau sing liwat (yang barusan lewat lumayan)” ujar Yasor. “Lumayan matamu. Lagek wae kae bidadari cuk (lumayan mata kamu. Yang barusan itu bidadari cuk” sahutku. “Iyo e, manis tenan. Menarik perhatian.” Sahut Ajib yang emang terkenal jago ngimcil. Apa itu ngimcil? Ya mbuh ya. saya juga sebenernya gak ngerti artinya -.-

Akhirnya kita memilih untuk tetap duduk diam walaupun makanan sudah habis. Menunggu Si Cantik dari P*dm*n*b* barusan lewat lagi. Nggak lama, ternyata lewat lagi beneran. Tapi bareng temen-temennya. Kami urungkan niat untuk mengajak kenalan. Well, bahkan diantara temen-temennya pun dia masih terlihat bersinar. Entah karena temen-temennya buthek atau emang dianya yang bening aku juga gatau. Yang pasti aku tertarik dengannya.

Esoknya, kami kembali menjalani rutinitas yang sama. Aku, Ajib, dan Yasor cari makan lagi di belakang SMP 5. Dan warung yang beruntung kami pilih adalah….(Tet teret tereeeet)….mie ayam bu sindi. Yg tertulis sih mie ayam roso manunggal. Tapi setauku itu mie ayam bu sindi kok -_-

Ya kami tau, keberuntungan gak akan datang dua kali. Walaupun kami berharap bisa mengenalnya atau setidaknya melihatnya lagi. Dan ternyata keberuntungan emang gak datang dua kali. Ya, kami LEBIH beruntung hari ini. Dia datang (sama temen-temennya) ke tempat kami makan, tapi sayangnya beda meja. Dan lagi, kami tetap diam. Mendengarkan perbincangannya dengan temen-temennya yang samar-samar.

She just made me fall deeper. Dari obrolan-obrolannya, aku tahu bahwa dia bener-bener tipe cewek yang manis. Gak nyablak, gak suka tereak-tereak (no offense ;)), dan murah senyum. Hell. Suasana sepanas jam 12 siang tepat jadi berasa sejuk walaupun tanpa AC. She’s just sweet. I wonder if she had noticed us. Karena kami bener-bener gak bisa melepaskan pandangan dari dia. Oke, mungkin kami terlihat seperti cowok-cowok gondhes (gentho – cowok nakal) yang doyannya godain cewek. Tapi kami sama sekali gak nggodain. Kami cuma bisa memandangi dia. Gak lebih.

Untuk pertama kalinya, bakat stalker gue terasa begitu berguna. Esoknya kita datengin lagi, di tempat yang sama. Dan yaa, dia emang gak datang. Tapi kita dapet informasi yang lebih penting; namanya. Cuma nama panggilan, gak nama panjang, bahkan kita gaktau dia kelas berapa. Disinilah otak intelijen (baca: stalker) ku bekerja, aku cari2 informasi apakah dia angkatan 012 atau 013. Aku sempat nyaris putus asa karena aku tanya adek kelas dan dia mengaku tak kenal. Dan keajaiban datang. Seseorang (cewek) membuat post di twitterny; @ sunmor with @**********. Well, nama yang sama. Mungkinkah? Dan itu saat-saat aku paling bersyukur punya ubersocial. Dengan mudah ngeklik namanya, liat avatarnya dan voila! Ternyata itu beneran dia. Gue semakin berbangga diri atas kualitas stalker yang tertanam dalam otak gue. Mungkin lain kali gue bakal jadi detektif.

Apakah twitternya saya follow? Gak, dia adalah tipe orang yang jarang ngetwit. Sweet, huh? Akhirnya berbekal nama di twitter, gue search di Facebook. Kenapa harus Facebook? Biar bisa kenalan lewat chat laaah. Kemajuan teknologi kok gak dimanfaatin. Tapi, disitu aku berhenti. Akhirnya tak add sih emang FB-nya, tapi untuk ngajak kenalan lewat FB? Itu sangat bukan aku. Harus langsung. Gatau gimana caranya.

Ya, tekad sudah bulat tapi apa daya. Nasib berkata lain. Udah 3 kali belakang SMP 5 tak sambangin dan masih belum ketemu juga. Aku frustasi. padahal dengan melihatnya saja aku bisa lupa dengan kisahku yang dulu. Bagaimana kalau kami dekat? Ah entahlah.

Bottomline is, love at first sight does exist. Ya, dia beneran ada. Tapi samar. Dan kamu harus bekerja ekstra untuk mendapatkannya. Dan well, mungkin dia gak seperti yang kamu harapkan. Tapi itulah misteri cinta. Penuh dengan hal-hal yang absurd dan gak pasti. Berani coba? Siapa takut!

Advertisements

About hamcena

I'm a melancholic-romantic rocker.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s